Oleh: Novyandi Saputra, Akademisi ULM dan Juri Lomba Bagarakan Sahur HST
BANUANEWSMEDIA.COM, HULU SUNGAI TENGAH – Lomba Bagarakan Sahur tahun 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Semarak Ramadhan ke-II di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) bukan sekadar kegiatan hiburan dalam suasana bulan Ramadhan. Di dalamnya terdapat sebuah praktik kebudayaan yang menarik untuk dibaca lebih jauh: bagaimana tradisi rakyat diolah menjadi ruang kreativitas, ruang partisipasi publik, sekaligus ruang penguatan identitas daerah.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disporabudparekraf) Kabupaten HST ini menghadirkan 17 kelompok peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten tersebut. Mereka beradu kreativitas dalam mengolah musik bertema bagarakan sahur, sebuah tradisi lama masyarakat Banjar yang bertujuan membangunkan warga untuk makan sahur selama bulan Ramadhan.
Dari perspektif kebudayaan, Lomba Bagarakan Sahur memiliki relevansi yang kuat dengan agenda pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal tidak hanya dijaga sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dihidupkan kembali melalui ruang-ruang publik yang melibatkan partisipasi masyarakat. Tradisi bagarakan sahur yang selama ini hadir sebagai praktik sosial dalam kehidupan masyarakat Banjar memperoleh bentuk baru sebagai ekspresi seni pertunjukan yang tetap berpijak pada nilai-nilai kebersamaan, religiusitas, dan gotong royong.

Dalam kerangka pemajuan kebudayaan, kegiatan ini sekaligus mencerminkan proses pelindungan dan pengembangan budaya. Tradisi bagarakan sahur tidak dipertahankan secara statis, tetapi ditafsirkan kembali oleh generasi muda melalui kreativitas musikal, pengolahan bunyi dari berbagai medium, serta penguatan aspek performatif seperti koreografi dan kostum. Proses ini memperlihatkan bahwa kebudayaan hidup melalui dialog antara tradisi dan kreativitas, sehingga nilai-nilai budaya tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Lebih jauh, kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi motor penggerak ekosistem sosial dan ekonomi kreatif di daerah. Festival yang melibatkan komunitas, seniman, pemerintah daerah, dan masyarakat luas membentuk ruang interaksi budaya yang aktif di ruang publik. Dari sini terlihat bahwa Kabupaten HST melalui Disporabudparekraf melalui Bidang Kebudayaan tidak hanya menjaga tradisinya, tetapi juga secara progresif mengaktivasi kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan daerah dan penguatan identitas kultural masyarakat.
Tradisi sebagai Fondasi Pembangunan Kebudayaan

Salah satu tantangan besar dalam pembangunan kebudayaan di daerah adalah bagaimana menjaga keberlanjutan tradisi di tengah perubahan zaman. Banyak tradisi yang perlahan kehilangan ruang karena perubahan gaya hidup masyarakat.
Namun melalui kegiatan seperti Lomba Bagarakan Sahur, kita melihat pendekatan yang berbeda. Tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang hanya dipertontonkan secara simbolik, tetapi justru dijadikan sebagai medium kreativitas generasi muda.
Pada lomba ini, para peserta tidak sekadar meniru praktik bagarakan sahur yang selama ini dikenal. Mereka mencoba mengolahnya kembali dengan pendekatan yang lebih kreatif, terutama dalam hal musikalitas, visual pertunjukan, hingga cara berinteraksi dengan penonton.
Pendekatan seperti ini penting karena memperlihatkan bahwa tradisi memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan konteks zaman. Ia tetap menjaga nilai dasarnya, tetapi membuka ruang bagi eksplorasi baru. Hal ini sejalan dengan semangat pemajuan kebudayaan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam proses pelestarian dan pengembangan budaya.
Kreativitas Bunyi sebagai Ekspresi Budaya Rakyat

Dari sisi musikal, salah satu hal yang paling menarik dalam lomba ini adalah kemampuan peserta dalam mengolah medium bunyi dari instrumen non-musik. Banyak kelompok memanfaatkan benda-benda sehari-hari seperti kaleng, ember plastik, galon air, hingga pipa paralon sebagai sumber bunyi utama. Benda-benda tersebut dimainkan dengan pendekatan perkusif, membangun pola ritmis yang kuat dan energik. Namun yang menarik untuk dicermati lebih jauh bukan hanya keberanian menggunakan medium bunyi alternatif, melainkan bagaimana peserta mulai memperlakukan bunyi-bunyi tersebut sebagai unsur komposisi musikal. Beberapa kelompok terlihat mampu membangun struktur ritme berlapis: ada bunyi yang berfungsi sebagai penanda tempo dasar, ada yang berperan sebagai aksen, dan ada pula yang membentuk variasi ritmis yang memperkaya dinamika pertunjukan.

Jika dibaca secara lebih kritis, fenomena ini sebenarnya memperlihatkan bagaimana pengetahuan musikal masyarakat HST terbentuk dari pengalaman budaya sehari-hari. Tradisi-tradisi musikal masyarakat Banjar; baik yang lahir dari kesenian rakyat, permainan ritmis, maupun praktik bunyi dalam kehidupan sosial secara tidak langsung membentuk sensitivitas terhadap pola ritme, aksentuasi bunyi, dan energi musikal kolektif. Pada lomba ini terlihat bahwa banyak kelompok secara intuitif memahami bagaimana ritme bekerja sebagai penggerak suasana. Walaupun tidak semuanya sampai pada tingkat komposisi yang matang, tetapi kemampuan untuk mengorganisasi bunyi menjadi pola yang komunikatif menunjukkan adanya modal musikal kultural yang hidup di tengah masyarakat.

Namun demikian, dari sisi artistik masih terdapat ruang pengembangan yang cukup besar. Sebagian kelompok masih cenderung bertumpu pada intensitas bunyi yang keras dan repetisi ritmis yang panjang, tanpa pengolahan dinamika yang lebih variatif. Padahal, eksplorasi terhadap tempo, dinamika, tekstur bunyi, hingga dialog antar instrumen dapat membuka kemungkinan musikal yang jauh lebih kaya. Di titik inilah lomba seperti ini memiliki peran penting sebagai ruang belajar kolektif bagi masyarakat untuk memperdalam kesadaran musikal mereka. Ke depan, harapannya kegiatan seperti Lomba Bagarakan Sahur tidak hanya menjadi ajang kompetisi tahunan, tetapi juga berkembang sebagai laboratorium kreativitas bunyi masyarakat Hulu Sungai Tengah. Dengan pendampingan yang tepat dari para seniman, akademisi, dan komunitas musik, potensi ritmis yang sudah dimiliki masyarakat ini dapat diarahkan menjadi bentuk ekspresi musikal yang lebih matang. Jika proses ini terus berkembang, bukan tidak mungkin bagarakan sahur akan tumbuh menjadi identitas musikal khas daerah, yang tidak hanya hidup sebagai tradisi Ramadhan, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan seni pertunjukan rakyat Hulu Sungai Tengah di masa depan.
Pertunjukan sebagai Bahasa Komunikasi Publik
Selain aspek musikal, lomba ini juga menuntut peserta untuk menghadirkan penampilan yang performatif. Karena ia berada dalam format kompetisi pertunjukan, maka unsur visual menjadi bagian penting dalam penilaian. Beberapa kelompok terlihat cukup berhasil mengembangkan elemen koreografi sederhana, kostum yang khas, serta gimik pertunjukan yang mampu menarik perhatian penonton. Upaya ini penting karena bagarakan sahur dalam konteks festival tidak lagi sekadar aktivitas membangunkan warga, tetapi telah berubah menjadi peristiwa pertunjukan publik yang melibatkan pengalaman visual dan dramaturgi.
Namun jika dicermati lebih jauh, tantangan utama yang masih terlihat adalah bagaimana mengintegrasikan seluruh unsur pertunjukan tersebut ke dalam satu konsep yang utuh. Dalam seni pertunjukan rakyat yang kuat, koreografi, kostum, pola dramatik, dan musik seharusnya tidak hadir sebagai elemen yang berdiri sendiri-sendiri. Semuanya perlu disusun sebagai satu narasi performatif yang berangkat dari ide dasar bagarakan sahur: membangunkan masyarakat, menghadirkan suasana malam Ramadhan, dan membangun energi kolektif kampung. Tanpa integrasi konseptual, koreografi hanya akan menjadi sekadar gerakan tambahan, kostum hanya menjadi dekorasi visual, dan gimik pertunjukan kehilangan relevansinya dengan tema.

Pada beberapa penampilan terlihat bahwa unsur dramatik masih digunakan secara sporadis, misalnya hanya sebagai pembuka atau selingan humor tanpa terhubung secara kuat dengan struktur musikal maupun alur pertunjukan. Padahal jika dikelola secara lebih sadar, elemen dramatik dapat memperkuat alur dramaturgi pertunjukan, misalnya melalui adegan membangunkan warga, dinamika perjalanan kelompok menyusuri kampung, hingga puncak energi ketika semua instrumen berbunyi bersama. Dengan pendekatan seperti ini, pertunjukan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki logika artistik yang jelas.
Karena itu, ke depan penting bagi para peserta untuk mulai memikirkan konsep pertunjukan secara lebih komprehensif. Koreografi dapat dirancang mengikuti aksen ritmis musik, kostum dapat merepresentasikan identitas kelompok atau karakter kampung, sementara elemen dramatik dapat memperkuat narasi bagarakan sahur sebagai tradisi sosial masyarakat. Ketika semua unsur tersebut terintegrasi, maka yang lahir bukan sekadar penampilan lomba, melainkan sebuah format seni pertunjukan rakyat yang utuh, hidup, dan memiliki karakter khas Hulu Sungai Tengah.
Ruang Publik dan Partisipasi Masyarakat

Antusiasme masyarakat yang memadati ruang publik Taman Dwi Warna Barabai menjadi bukti bahwa kegiatan ini memiliki daya tarik yang kuat. Kehadiran penonton yang begitu banyak menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Tradisi yang dihadirkan dalam format festival mampu menciptakan suasana kebersamaan yang jarang ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Di ruang publik seperti ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang merayakan kebudayaan mereka sendiri secara khusus budaya Ramadhan di HST.
Ruang publik yang dipenuhi oleh pertunjukan seni seperti ini juga memiliki dampak sosial yang besar. Ia menciptakan ruang pertemuan antara masyarakat, komunitas, dan generasi muda dalam suasana yang positif. Festival menjadi medium yang mempertemukan berbagai latar belakang sosial dalam satu pengalaman bersama. Seni dalam konteks ini berfungsi sebagai bahasa sosial yang mampu menyatukan masyarakat, memperkuat rasa memiliki terhadap tradisi, sekaligus membangun kebanggaan terhadap identitas daerah.

Di sisi lain, kegiatan festival seperti ini juga memunculkan aktivitas ekonomi kecil di sekitar lokasi acara. Pedagang makanan, minuman, dan berbagai produk lokal turut meramaikan suasana. Dengan demikian, kegiatan kebudayaan tidak hanya menghadirkan nilai simbolik, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Kehadiran pengunjung menciptakan perputaran ekonomi yang langsung dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang memanfaatkan momentum keramaian festival.

Fenomena ini menunjukkan bahwa seni dan kebudayaan memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Ketika sebuah kegiatan budaya mampu menarik perhatian publik, maka secara otomatis ia juga mengaktifkan berbagai sektor ekonomi informal di sekitarnya. Mulai dari pedagang kaki lima, pelaku UMKM, hingga penyedia jasa lokal semuanya ikut merasakan dampaknya. Inilah bentuk nyata bagaimana kebudayaan tidak hanya berbicara tentang identitas dan ekspresi, tetapi juga tentang sirkulasi ekonomi yang hidup di tengah masyarakat.
Pada konteks pembangunan daerah, kondisi seperti ini tentu sejalan dengan harapan pemerintah daerah untuk terus mendorong aktivasi ekonomi berbasis masyarakat. Ketika kebudayaan dijadikan sebagai panggung bersama, maka seni tidak lagi berdiri sendiri sebagai aktivitas estetis, melainkan menjadi motor penggerak kehidupan sosial dan ekonomi lokal. Lomba Bagarakan Sahur pada akhirnya tidak hanya merayakan tradisi Ramadhan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi energi yang menggerakkan masyarakat; menghidupkan ruang publik, mempertemukan komunitas, sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan di Kabupaten HST.
Relevansi dengan Visi Pembangunan Daerah
Jika dilihat dalam konteks pembangunan daerah, kegiatan seperti Lomba Bagarakan Sahur yang diinisiasi oleh Bidang Kebudayaan Disporabudparekraf Kabupaten HST memiliki relevansi yang kuat dengan visi pembangunan daerah untuk mendorong penguatan identitas lokal, pembangunan sumber daya manusia yang kreatif, serta pengembangan ekonomi berbasis potensi budaya masyarakat. Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam aktivitas kebudayaan. Generasi muda tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga sebagai pelaku yang secara langsung menghidupkan tradisi melalui pendekatan kreatif yang sesuai dengan dinamika zamannya.
Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan kebudayaan tidak hanya dijalankan melalui kebijakan administratif semata, tetapi juga melalui aktivasi ruang-ruang budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi diberi ruang untuk tampil, komunitas diberi kesempatan untuk berkarya, dan masyarakat luas mendapatkan pengalaman budaya yang memperkuat rasa memiliki terhadap identitas daerahnya. Dalam konteks ini, kebudayaan tidak dipahami sebagai sektor yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung dengan sektor lain seperti pariwisata, ekonomi kreatif, pendidikan, hingga pembangunan sosial masyarakat.

Pendekatan seperti ini juga memperlihatkan adanya kepekaan kepemimpinan daerah dalam membaca posisi kebudayaan dalam pembangunan. Di bawah kepemimpinan Samsul Rizal, atau yang akrab disapa Bang Rizal, kebudayaan ditempatkan bukan sekadar sebagai simbol identitas daerah, tetapi sebagai akar (roots) dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten HST. Kesadaran ini penting, karena pembangunan manusia yang kuat tidak hanya bertumpu pada aspek ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga pada kekuatan nilai, karakter, dan identitas budaya masyarakatnya. Ketika kebudayaan diberi ruang untuk tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan publik, maka yang dibangun bukan hanya aktivitas seni semata, tetapi juga kesadaran kolektif masyarakat terhadap jati diri dan masa depan daerahnya.
Hulu Sungai Tengah sebagai Pusat kebudayaan dan Ekonomi Kreatif di Banua 6
Melalui Lomba Bagarakan Sahur dalam Festival Semarak Ramadhan ke-II, kita dapat melihat sebuah gambaran yang cukup jelas bahwa Kabupaten HST sedang membangun arah kebudayaan yang progresif. Pemerintah daerah tidak hanya menempatkan tradisi sebagai warisan masa lalu yang harus dijaga, tetapi juga sebagai sumber kreativitas yang terus dikembangkan melalui ruang-ruang publik dan kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Di panggung sederhana di Kota Barabai, bunyi-bunyi dari ember, kaleng, dan pipa paralon berubah menjadi komposisi ritmis yang meriah. Bunyi-bunyi itu bukan hanya membangunkan orang untuk sahur, tetapi juga membangunkan kesadaran bahwa kebudayaan memiliki potensi besar sebagai energi sosial yang menggerakkan kreativitas generasi muda. Dari proses kreatif yang sederhana ini lahir bentuk ekspresi baru yang memperlihatkan bagaimana masyarakat mampu mengolah tradisi menjadi medium seni yang hidup dan relevan dengan zaman.

Dalam konteks yang lebih luas, dinamika ini sekaligus memperlihatkan posisi Kabupaten Hulu Sungai Tengah sebagai simpul penting perkembangan kebudayaan di wilayah Banua Enam. Aktivasi ruang-ruang seni, festival budaya, serta keterlibatan komunitas kreatif secara konsisten memperlihatkan bahwa Barabai dan Hulu Sungai Tengah perlahan berkembang menjadi pusat aktivitas kebudayaan dan ekonomi kreatif di kawasan Banua 6. Tradisi, komunitas seni, dukungan pemerintah daerah, serta partisipasi masyarakat membentuk sebuah ekosistem yang memungkinkan kebudayaan tumbuh tidak hanya sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai sumber daya sosial dan ekonomi daerah.
Dari sini kita belajar bahwa pembangunan kebudayaan yang kuat selalu dimulai dari hal yang sederhana: “memberi ruang bagi masyarakat untuk berkarya, berpartisipasi, dan merayakan identitas budayanya sendiri. Ketika ruang itu tersedia dan dikelola dengan baik, maka kebudayaan tidak hanya hidup, tetapi juga mampu menjadi fondasi bagi pertumbuhan kreativitas, penguatan identitas daerah, serta pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.”












Leave a Comment